Sabtu, 12 November 2011

Cara penilaian status gizi

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan segenap RahmatNya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.  Terima kasih yang tak terhingga juga kami ucapkan pada teman-teman, dosen pembimbing, serta pihak-pihak lain yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah kami ini.
Ilmu gizi merupakan salah satu cabang ilmu yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Dan sebagai mahasiswa keperawatan, kita harus memahami dengan baik tentang ilmu ini, meneliti, untuk kemudian mengaplikasikannya kepada masyarakat sebagi wujud tri dharma perguruan tinggi. Mahasiswa keperawatan harus mengetahui bagaimana  proses metabolisme makanan di dalam tubuh, serta efek-efek berbeda yang akan timbul pada klien kita yang berada dalam rentang sakit, atau kelainan-kelainan metabolisme.
Dan sebagai lanjutan dari makalah sebelumnya, kami kembali menulis dengan  judul ”Cara Penilaian Status Gizi” Harapan kami, kita bisa belajar bersama tentang bagaimana cara mengetahui kebutuhan gizi masyarakat. Agar nanti dapat kita aplikasikan kepada masyarakat untuk meningkatkan taraf kesehatan masyarakat.
Kami menyadari, makalah ini tentu masih membutuhkan banyak masukan dan tambahan. Oleh karena itu, marilah kita berpartisipasi aktif dalam diskusi kelas. Sampaikanlah ide-ide yang membangun itu, agar pemahaman kita dapat lebih baik untuk kemudian memudahkan kita mengikuti materi-materi selanjutnya.

                                                                                                                          
                                                                                                     Padang, 7 Oktober 2010


                                                                                                                Kelompok 3



i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................................................ i
DAFTAR ISI ..................................................................................................... ii
BAB I  PENDAHULUAN
            1.1 Latar Belakang ............................................................................... 1
            1.2 Tujuan Penelitian ........................................................................... 1
            1.3 Ruang Lingkup Masalah .................................................................1
BAB II ISI
            2.1Pengertian Status Gizi .................................................................... 2
            2.2 Menilai Status Gizi peroangan ....................................................... 4
            2.3 Menilai Status Gizi Ibu Hamil ......................................................... 8
BAB III PENUTUP
            3.1 Kesimpulan .................................................................................. 14
DAFTA PUSTAKA
















i


PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Ilmu gizi merupakan salah satu ilmu yang harus dikuasai oleh mahasiswa keperawatan. Ilmu ini akan membantu kita untuk memahami bagaimana metabolisme makanan di dalam tubuh manusia beserta efeknya bagi tubuh, cara mengetahui angka kecukupan gizi dan penyakit-penyakit yang berkaitan dengan kekurangan atau kelebihan nutrisi. Dan sebagai awalan, kita harus memahami terlebih dahulu konsep dasar gizi. Itulah latar belakang kami menyusun makalah ini, selain sebagai pemenuhan tugas Ilmu Dasar Keperawatan V.

1.2 TUJUAN
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk membantu memahami konsep dasar ilmu gizi, seperti definisi ilmu gizi itu sendiri, fungsi gizi atau nutrisi bagi tubuh, dan lain sebagainya.

1.3 RUANG LINGKUP MASALAH
Permasalahan yang diangkat meliputi definisi ilmu gizi, ruang lingkup ilmu gizi, fungsi gizi bagi tubuh, dan gizi seimbang, serta hal-hal lain berkenaan dengan konsep dasar gizi.












1
ISI

2.1 Pengertian status gizi
Status gizi adalah suatu keadaan keseimbangan dalam tubuh sebagai akibat pemasukan konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi yang digunakan oleh tubuh untuk kelangsungan hidup dalam mempertahankan fungsi-fungsi organ tubuh (Supariasa I, 2001 : 18).

A.   Cara penilaian status gizi
Cara penilaian status gizi dibagi 2 yaitu :

a.    Penilaian status gizi secara langsung :
    Penilaian status gizi ini dibagi 4 macam penilaian, yaitu :
1) Antropometri adalah berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi (Supariasa I, 2001 : 19).

·       Kelebihan pengukuran antropometri
(1) Relatif murah.
(2) Cepat, sehingga dapat dilakukan pada populasi yang besar.
(3) Objektif.
(4) Gradebel, dapat dirangking apakah ringan, sedang atau
berat.
(5) Tidak menimbulkan rasa sakit pada responden.

·       Keterbatasan pengukuran antropometri
(1) Membutuhkan data referensi yang relevan.
(2) Kesalahan yang muncul seperti kesalahan pada peralatan (belum dikalibrasi), kesalahan pada observer (kesalahan pengukuran, pembacaan, pencatatan).

2
(3) Hanya mendapatkan data pertumbuhan obesitas, malnutrisi karena kurang energi dan protein, tidak dapat memperoleh informasi karena defisiensi zat gizi mikro. (FKM UI, 2007 : 265).

2) KlinisPemeriksaan klinis adalah metode yang didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi dihubungkan dengan ketidak cukupan zat gizi. Dapat dilihat dari jaringan epitel seperti kulit, mata, rambut, mukosa oral.

3) Biokimia
Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang uji secara laboratorium dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh.
 
4) Biofisik
Adalah metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur dan jaringan.
(Supariasa I, 2001 : 19-20).

b.    Penilaian status gizi secara tidak langsung :
1) Survei konsumsi makanan
Adalah metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis gizi yang dikonsumsi.
2) Statistik vital
Pengukuran dengan menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian akibat penyebab tertentu yang berhubungan dengan gizi.
3) Faktor ekologik
Mengatakan bahwa jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti iklim dan lain-lain (Supariasa I, 2001 : 20-21).





3
2.2 MENILAI STATUS GIZI PERORANGAN

Menilai kesehatan gizi perorangan pada dasarnya sama dengan menilai kesehatan umum di klinik. Pada pemeriksaan diperhatikan ada tidaknya gejala-gejala yang menjaid para meter penyakit, dala hal ini penyakit gizi. Pada pemeriksaan kesehatan umum dilakukan pemeriksaan diagnostik fisik, pemeriksaan laboratorik terhadap darah, urin dan tinja, serta cairan badan lain bila diperlukan, serta pemeriksaan khusus menggunakan peralatan elektronika canggih yang modern, bila terdapat indikasi untuk itu.

A.   Pemeriksaan kesehatan gizi perorangan di klinik
Pada pemeriksaan kesehatan gizi dilakukan anamnesa umum dan anamnesa dietitik, dilanjutkan dengan diagnosa fisik, mencari gejala-gejala yang bersangkutan dengan penyakit gizi terutama penyakit difesiensi gizi. Di Indonesia di gunakan Kartu Menuju Sehat (KMS) untuk mencatat dan menilai hasil penimbangan berat badan pada anak. Pada orang dewasa dan remaja pengukuran berat dan tinggi badan tidak lagi di lakukan, kecuali pada kondisi yang sangat khusus. Pada diagnostik fisik di teliti secara sistematik ada tidaknya gejala-gejala kelainan gizi, mulai dari kepala, terus kepala sampai ke jari kaki.sebagai penuntun dapat di gunakan tabel yang memuat gela-gejala defisiensi berbagai zat gizi menurut topografinya pada tubuh kita seperti di bawah ini :











4
GEJALA DAN TOPOGRAFI
KEMUNGKINAN DEFISIENSI GIZI
DAERAH KEPALA DAN MUKA
Rambut kering, kusam, dan depigmentasi
Injectio circum cornealis
Xerosis conjunctive, bercak bitot, keratomalacia, hemeralopia
Photopobia
Cheilosis
Stomatitis angularis, Perleche
Glossitis, Magenta tounge
Gingivitis, Gum bleeding, Apathae, Ceborroic dermaitis di sulcus
Nasolabialis, Acne vulgaris
Malocclusion

Protein defisiensi
Rboflavin
Vitamin A

Vitamin A, Riboflavin
Riboflavin, pyridoxin, B-Kompleks
Riboflavin, niacin, B-Kompleks
Niacin, Vitamin B 12
Vitamin C

Riboflavin
Vitamin D, Protein deficiency
DAERAH KULIT UMUM
Perifoliculitis
Keratitis, Perifolitis, Toadskin
Pellagra dermatitis, Glove dermatitis
Crazy pavement dermatosis perkamen
Hemorrhagia punctata, Petechiae, Ecchymosa
Pale skin, Conjunction, Labia
Xerosis cutis, Mozaic skin

Vitamin C, Vitamin A
Vitamin A
Niacin
Protein
Vitamin C

Fe, PGA, Vitamin B12
Protein vitamin A
EXTREMITAS
Reflex patella dan achilles menurun atau hilang
Tonus otot kurang, tenaga otot kurang, otot betis sakit diperas
Parestesia

Thiamin

Thiamin

Thiamin
LAIN-LAIN
Kelainan jantung thachycardia membesar
Oedema kaki dan muka
Rachhitic rosary, fontanel terlambat menutup,box head
Struma simplex,cretinism, Myxoe dema

Thiamin
Thiamin, PEM
Vitamin D

Jodium

Harus diingat bahwa gejala-gejala yang berhubungan dengan kondisi defisiensi gizi pada umumnya tidak pathognomonik untuk suatu penyakit tertentu.
Beberapa penyakit gizi memberikan gejala-gejala tertentu yang sama, sehingga satu jenis gejala saja tidak mempunyai nilai diagnostik pada pemerikasaan gizi ini. Bahkan gejala tersebut mungkin disebabkan oleh penyakit yang sama sekali tidak bersangkutan dengan keadaan gizi.
     Sifat penting lain dari penyakit gizi ialah tidak sliter, artinya suatu defisiensi zat gizi sering terdapat beberapa jenis sekaligus, hal ini terjadi karena defisiensi itu disebabkan oleh kekurangan konsumsi bahan makanan yang merupakan sumber dari beberapa zat gizi. Jadi penyakit gizi itu bersifat multipel.
     Sifat penting kedua yang melekat pada penyakit defisiensi gizi ialah terdapat berkelompok diantaranya keluarga, atau kelompok yang hidup bersama didalm asrama ataau wisma; mungkin pula kelomponya itu berasal dari satu kampung tertentu atau dari daerah (wilayah) tertentu. Jika pada seseorang terdapat gejala-gejala penyakit defisiensi gizi, gejala-gejala tersebut mungkin telah terdapat pula pada orang-orang lain yang menjadi anggota kelompok yang sama. Ini karena kelompok orang-orang tersebut mendapat makanan yang sama berasal dari satu dapur atau dari satu perusahaan katering.maka pada upaya terapinya yang menyangkut perbaikan pola konsumsinya, harus menjangkau perbaikan dapur yang menjadi sumber makanan bersama bagi kelompok tersebut.


6
     Pada diagnosa sesuatu penyakit defisiensi gizi pada seseorang harus membangkitkan perhatian pelayan kesehatan terhadap anggota keluarga lainnya, bahkan mungkin anggota kelompok diluar keluarganya, misalnya bila penderita tinggal di wisma atau diasrama,dan mendapat makan dari satu dapur bersama.
B.   Indeks Massa Tubuh (IMT)
Masalah kelebihan dan kekurangan gizi pada orang dewasa (18 tahun keatas) merupakan masalah penting, karena selain mempunyai risiko penyakit-penyakit tertentu, juga dapat mempengaruhi produktifitas kerja Oleh karena itu, pemantauan keadaan tersebut perlu dilakukan secara berkesinambungan. Salah satu cara adalah dengan mempertahankan berat badan ideal atau normal (Supariasa, 2001 : 59).
Laporan FAO/WHO/UNU tahun 1985 menyatakan bahwa batasan berat badan normal orang dewasa ditentukan berdasarkan nilai Body Mass Index (BMI). Di Indonesia istilah Body Mass
Index diterjemahkan menjadi Indeks Massa Tubuh (IMT). IMT merupakan alat yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan, maka mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat mencapai usia harapan hidup lebih panjang. (Supariasa, 2001:60)

Batas ambang IMT ditentukan dengan merujuk ketentuan FAO/WHO, yang membedakan batas ambang untuk laki-laki dan perempuan. Batas ambang normal laki-laki adalah 20,1- 25,0 dan untuk perempuan adalah 18,7-23,8. Untuk kepentingan pemantauan dan tingkat defisiensi energi ataupun tingkat kegemukan, lebih lanjut FAO atau WHO menyarankan menggunakan satu batas ambang antara laki-laki dan perempuan. Ketentuan yang digunakan adalah menggunakan ambang batas laki-laki untuk kategori kurus tingkat berat dan menggunakan batas ambang pada perempuan untuk kategori gemuk tingkat berat. (Supariasa, 2001 : 60).

7
KATEGORI AMBANG BATAS IMT UNTUK INDONESIA
*    Kekurangan berat badan tingkat berat < 17,0 Kurus
*    Kekurangan berat badan tingkat ringan 17,0-18,5
*    Normal >18,5-25,0
*    Kelebihan berat badan tingkat ringan >25,0-27,0
*    Gemuk Kelebihan berat badan tingkat berat >27,0

Berat normal adalah idaman bagi setiap orang agar mencapai tingkat kesehatan yang optimal. Keuntungan apabila berat badan normal adalah penampilan baik, lincah dan risiko sakit rendah. Berat badan yang kurus dan berlebihan akan menimbulkan risiko terhadap berbagai macam penyakit. (Supariasa, 2001 : 61).

2.3 PENILAIAN STATUS GIZI IBU HAMIL
Sehingga perlu dipertahankan status gizi yang baik dan seimbang selama hamil, untuk menjaga kesehatan maka ibu harus menciptakan pola makan sehat dimana makanan yang dikonsumsi memiliki jumlah kalori dan zat-zat gizi sesuai dengan kebutuhan (Krisnatuti Diah, 2000 : 30).
A.   Penilaian status gizi ibu hamil
Antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan dengan mengukur beberapa parameter. Parameter adalah ukuran tunggal dari tubuh manusia, antara lain: umur, berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, lingkar kepala, lingkar dada, lingkar pinggul dan tebal lemak di bawah kulit. Di bawah ini akan diuraikan beberapa parameter itu (Supariasa, 2001:38)
1)  Umur
Faktor umur sangat penting dalam penentuan status gizi. Kesalahan penentuan umur akan menyebabkan interprestasi penentuan status gizi menjadi salah. Hasil pengukuran tinggi badan dan berat badan yang akurat menjadi tidak berarti jika tidak disertai dengan penentuan umur yang tepat (Supariasa, 2001 : 38).



8
2)  Berat Badan
Berat badan ibu hamil harus memadai, bertambah sesuai umur kehamilan. Kenaikan berat badan yang ideal ibu hamil 7 kg (untuk ibu yang gemuk) dan 12,5 kg (untuk ibu yang tidak gemuk). Dalam 3 bulan pertama, berat badan ibu hamil akan naik sampai 2 kg kemudian dinilai normal bila setiap minggu berat badan naik 0,5 kg (Nadesul Handrawan, 1997 : 17).

Berat badan merupakan pilihan utama karena berbagai pertimbangan, antara lain :
a) Parameter yang paling baik, mudah terlihat perubahan dalam waktu singkat karena perubahan-perubahan konsumsi makanan dan kesehatan.
b) Memberikan gambaran status gizi sekarang dan kalau dilakukan secara periodik memberikan gambaran yang baik tentang pertumbuhan.
c) Merupakan ukuran antropometri yang sudah dipakai secara umum dan luas di Indonesia sehingga tidak merupakan hal baru yang memerlukan penjelasan secara meluas.
d) Ketelitian pengukuran tidak banyak dipengaruhi oleh keterampilan pengukur.
e) Karena masalah umur merupakan faktor penting untuk penilaian status gizi, berat badan terhadap tinggi badan sudah dibuktikan dimana-mana sebagai indeks yang tidak tergantung pada umur.
f) Alat pengukur dapat diperoleh di daerah pedesaan dengan ketelitian yang tinggi dengan menggunakan dacin yang juga sudah dikenal oleh masyarakat (Supariasa, 2001:39).


9
Penentuan berat badan dilakukan dengan cara menimbang. Alat yang digunakan di lapangan sebaiknya memenuhi beberapa persyaratan.
a)    Mudah digunakan dan dibawa dari satu tempat ke tempat yang lain.
b)    Mudah diperoleh dan relatif murah harganya.
c)    Ketelitian penimbangan sebaiknya maksimum 0,1 kg.
d) Skalanya mudah dibaca. (Supariasa, 2001:39).

3) Tinggi Badan
Tinggi badan merupakan parameter yang penting bagi keadaan yang telah lalu dan sekarang, jika umur tidak diketahui dengan tepat. Di samping itu, tinggi badan merupakan ukuran kedua yang penting, karena dengan menghubungkan berat badan terhadap tinggi badan (Quac Suck), faktor umur dapat dikesampingkan. (Supariasa, 2001:42)
4) Lingkar Lengan Atas (LLA)
Metode penilaian yang digunakan untuk memantau status gizi ibu hamil adalah dengan cara metode pengukuran langsung (antropometri) yaitu pengukuran Lingkar Lengan Atas (LLA), metode ini digunakan untuk mendeteksi adanya Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada Wanita Usia Subur (WUS) (Supariasa I, 2001 : 48).
Ambang batas LLA WUS dengan risiko KEK apabila LLA kurang dari 23,5 cm, artinya wanita tersebut mempunyai risiko KEK dan diperkirakan akan melahirkan BBLR (Supariasa I, 2001 : 82).
Ibu KEK adalah ibu yang ukuran LILAnya < 23,5 cm dan dengan salah satu atau beberapa kriteria sebagai berikut :
a)    Berat badan ibu sebelum hamil < 42 kg.
b)    Tinggi badan ibu < 145 cm.
c)    Berat badan ibu pada kehamilan trimester III < 45 kg.

10
d)    Indeks masa tubuh (IMT) sebelum hamil < 17,00
e)    Ibu menderita anemia (Hb < 11 gr %) (DepKes RI, 1995 : 5).

Lingkaran Lengan Atas (LLA) mencerminkan tumbuh kembang jaringan lemak dan otot yang tidak berpengaruh banyak oleh cairan tubuh. Pengukuran ini berguna untuk skrining malnutrisi protein yang biasanya digunakan oleh DepKes untuk mendeteksi ibu hamil dengan resiko melahirkan BBLR bila LILA < 23,5 cm (Wirjatmadi B, 2007 : 4).
Ambang batas LLA WUS adalah 23,5 cm. Bila hasil pengukuran kurang dari 23,5 cm berarti risiko KEK. Bila lebih dari sama dengan 23,5 cm berarti tidak berisiko KEK.
Cara pengukuran LLA :
Ada 7 urutan pengukuran LLA, yaitu :
(1)  Tetapkan posisi bahu dan siku.
(2) Letakkan pita antara bahu dan siku.
(3) Tentukan titik tengah lengan.
(4) Lingkar pita pada tengah lengan.
(5) Pita jangan terlalu dekat.
(6)  Pita jangan terlalu longgar.
(7)  Cara pembacaan skala yang benar. (Supariasa I, 2001 : 49).
Hal-hal yang harus diperhatikan :
(1) Dalam menetapkan posisi bahu dan siku, siku ditekuk
membentuk sudut 900.
(2) Pengukuran dilakukan dibagian tengah antara bahu dan
siku lengan kiri.
11
(3) Lengan harus dalam posisi bebas baju dan otot lengan
dalam keadaan tidak tegang atau kendor.
(4) Alat pengukuran dalam keadaan baik dalam arti tidak kusut atau sudah dilipat-lipat, sehingga permukaannya sudah tidak rata. (Supariasa I, 2001 : 49).

B. Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi ibu hamil
1. Status kesehatan
Pada kondisi sakit asupan energi ibu hamil tidak boleh dilupakan. Ibu hamil dianjurkan mengkonsumsi tablet mengandung zat besi atau makanan yang mengandung zat besi seperti hati, bayam dan sebagainya sedangkan demi suksesnya kehamilan keadaan gizi ibu selama hamil harus mendapat tambahan protein, mineral, vitamin dan energi (Paath EF, 2004 : 56).
2. Jarak kelahiran bila yang dikandung bukan anak pertama
Status gizi ibu hamil belum pulih sebelum 2 tahun pasca persalinan sebelumnya, oleh karena itu belum siap untuk kehamilan berikutnya (FKM UI, 2007 : 250).
3. Usia hamil pertama
a.  Ibu hamil pada usia kurang dari 20 tahun
Ibu yang hamil kurang dari 20 tahun merupakan kehamilan yang sangat berisiko, baik terhadap dirinya maupun terhadap bayi yang dikandungnya karena pertumbuhan linear (tinggi badan) pada umumnya baru selesai pada usia 16-18 tahun dan dilanjutkan dengan pematangan pertumbuhan rongga panggul beberapa tahun setelah pertumbuhan linear selesai yaitu pada usia 20 tahun. Akibat terhadap dirinya (hamil pada usia kurang dari 20 tahun) meliputi komplikasi persalinan dan gangguan penyelesaian pertumbuhan optimal karena masukan gizi tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dirinya yang masih tumbuh (FKM UI, 2007 : 235).

12
b.    Ibu hamil pada usia lebih dari 35 tahun
Ibu yang hamil pertama pada usia lebih dari 35 tahun mudah terjadi penyakit pada ibu dan organ kandungan menua, jalan lahir juga tambah kaku. Ada kemungkinan lebih besar ibu hamil mendapatkan anak cacat, terjadi persalinan macet dan perdarahan (Poedji Rochyati, 2003 : 53).
4. Paritas
Paritas merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap hasil konsepsi. Perlu diwaspadai karena ibu pernah hamil atau melahirkan anak 4 kali atau lebih, maka kemungkinan akan banyak ditemui keadaan :
a.    Kesehatan terganggu, anemia, kurang gizi.
b.    Kekendoran pada dinding perut dan dinding rahim.
c.    Tampak ibu dengan perut menggantung.(Poedji Rochyati, 2003 : 60).
5. Faktor sosial ekonomi
Faktor yang berperan dalam menentukan status kesehatan seseorang adalah tingkat sosial ekonomi (FKM UI, 2007 : 175). Sosial ekonomi merupakan gambaran tingkat kehidupan seseorang dalam masyarakat yang ditentukan dengan variabel pendapatan, pendidikan dan pekerjaan, karena ini dapat mempengaruhi aspek kehidupan termasuk pemeliharaan kesehatan (Notoatmodjo, 2003 : 16).














13
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
           
Status gizi adalah suatu keadaan keseimbangan dalam tubuh sebagai akibat pemasukan konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi yang digunakan oleh tubuh untuk kelangsungan hidup dalam mempertahankan fungsi-fungsi organ tubuh. Cara penilaian status gizi dibagi 2 yaitu penilaian status gizi secara langsung dan penilaian status gizi secara tidak langsung.
Menilai kesehatan gizi perorangan pada dasarnya sama dengan menilai kesehatan umum di klinik. Pada pemeriksaan diperhatikan ada tidaknya gejala-gejala yang menjaid para meter penyakit, dala hal ini penyakit gizi. Pada pemeriksaan kesehatan umum dilakukan pemeriksaan diagnostik fisik, pemeriksaan laboratorik terhadap darah, urin dan tinja, serta cairan badan lain bila diperlukan, serta pemeriksaan khusus menggunakan peralatan elektronika canggih yang modern, bila terdapat indikasi untuk itu.
Untuk menjaga kesehatan maka ibu hamil harus menciptakan pola makan sehat dimana makanan yang dikonsumsi memiliki jumlah kalori dan zat-zat gizi sesuai dengan kebutuhan. Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi ibu hamil adalah status kesehatan, jarak kelahiran bila yang dikandung bukan anak pertama, usia hamil pertama, paritas dan faktor sosial ekonomi .












14
DAFTAR PUSTAKA

Sediaoetama,prof.Dr.Achmad Djaeni M.Sc.2004. Ilmu Gizi. Jakarta:DIAN RAKYAT






























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar